kopi yang tlah mendingin…

Menyendiri tidaklah disendirikan..dan..mengenang bukan tidak pernah dikenang. Semuanya adalah tapak-tapak sejarah kehidupan manusia yang tertera di dalam relung sanubarinya. Tinggal kita saja yang harus pandai-pandai menempatkan diri..kapan kenangan itu harus dibuka dan kapan pula goresan tinta merah masa lalu basah kembali. Semua ada di tangan kita masing-masing. Asal saja jangan sampai kita tergores ujung pena sejarah yang lukanya pasti sulit disembuhkan.

Sendiri…bersama kopi…

 

kubiarkan dia berjalan…
jauh meninggalkanku,
karena aku ingin dia bebas…
menempuh pilihannya

dan aku…
biarkan kunikmati kopi pahit ini…sendiri
karena kopi pahit ini membuatku kebal…
akan getirnya hidup

jangan menengok kebelakang lagi,
karena aku kan baik-baik saja

 

sendiri…
berdiri…

tak ingin lari…
menyongsong hari…

telinga mendengar…
semua berkoar…

seakan pagi tak ada arti…
karna tak ada yang menikmati…

secangkir…
tak akan menjadi akhir…

pahitnya kopi, manisnya senyum…
tak ada tetapi, bagi hati yang meranum…

 

ku seduh secangkir kopi pahit lagi
tapi kali ini tidak ingin meneguk bersamanya…lagi

masih ingin menghirup sengatan aroma secangkir ini…
sendiri

 

Beberapa jam lalu..serasa saya ditampar oleh komentar seorang teman di blog saya beberapa waktu silam. Yah..memang, mengenang bukan tidak pernah dikenang. Dan bagiku…kenangan itu tetap saja sebuah kenangan yang tidak harus diulang, karena meski kita sendiri berusaha mencoba memindahkan kenangan itu hingga mencoba mengulangnya..toh tetap saja berakhir dengan rasa yang berbeda.

Pagi ini…saya mencoba sedikit mengais satu per satu kenangan yang tlah kutinggalkan beberapa jam yang lalu…

Mengenang kopi…

tak ada yang menyamai rayuan pekat kopi yang tlah kau seduh kala itu..
begitu menyengat hingga merajang tubuh dalam kesendirian,
meski tak bisa memutar waktu…
kucoba mengais sisa lembaran daun yang tlah mengering…
sendiri tanpamu…
dengan menikmati keintiman nan sakral bersama kepulan kopi panas ini

jangan kau tawarkan padaku segenap lena,

meski aku butuh lenaan sesaat,

suguhkan saja dulu kopi pahit panas dalam secangkir kecil

dan sebatang rokok,

biar kubisa ratapi kepulan uap dan asap hangat bersahabat,

lalu tenggakan awal kan bisa membuatku nikmat

tuk pacu pahitnya hidup

 

jeratan ini begitu terasa

terasa seperti candu kopi pahit ini

tapi pahit dan segar

seperti rokok yang kuhisap dalam-dalam saat ini

lebih baik kulantangkan saja

bahwa kau canduku juga

kaulah seorang jeratan yang mengitari udaraku *

 

(surabaya 23 juni 2011… 10.35)

Advertisement

About this entry